PAHLAWAN REVOLUSI INDONESIA
August 31, 2017
PANCASILA Sebagai Alat Pemersatu Bangsa
August 31, 2017

PEMBAHASAN PANCASILA DAN AGAMA

PEMBAHASAN

PANCASILA DAN AGAMA

 

 

  1. Pengertian Pancasila dan Agama

Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Nama ini terdiri dari dua kata dari Sanskerta: pañca berarti lima dan śīla berarti prinsip atau asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.Pancasila adalah pedoman luhur yang wajib di ta’ati dan dijalankan oleh setiap warga negara Indonesia untuk menuju kehidupan yang sejahtera tentram,adil,aman,sentosa.

Agama adalah ajaran sistem yang mengatur tata keimanan kepada Tuhan Yang Maha kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia an manusia serta  lingkungan. (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

 

  1. Hubungan Pancasila dan Agama

Pancasila  yang  di  dalamnya  terkandung  dasar filsafat  hubungan  negara  dan agama  merupakan  karya besar bangsa  Indonesia  melalui The  Founding  Fathers Negara Republik Indonesia. Konsep pemikiran para pendiri negara  yang  tertuang dalam  Pancasila  merupakan  karya khas yang secara  antropologis  merupakan local geniusbangsa  Indonesia  (Ayathrohaedi  dalam  Kaelan,  2012). Begitu  pentingnya memantapkan  kedudukan  Pancasila, maka  Pancasila  pun  mengisyaratkan  bahwa kesadaran akan adanya Tuhan milik semua orang dan berbagai agama. Tuhan menurut  terminologi  Pancasila  adalah  Tuhan  Yang Maha Esa, yang tak terbagi, yang maknanya sejalan dengan agama  Islam,  Kristen,  Budha,  Hindu  dan  bahkan juga Animisme (Chaidar, 1998: 36).

Menurut  Notonegoro (dalam  Kaelan, 2012:  47),  asal mula  Pancasila  secara langsung  salah  satunya  asal  mula bahan (Kausa Materialis) yang menyatakan bahwa “bangsa Indonesia  adalah  sebagai  asal  dari  nilai-nilai  Pacasila, yang digali dari bangsa Indonesia yang berupa nilai-nilai adat-istiadat  kebudayaan  serta  nilai-nilai religius  yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia”.Sejak  zaman purbakala  hingga  pintu  gerbang (kemerdekaan)  negara  Indonesia,  masyarakat Nusantara telah melewati ribuan tahun pengaruh agama-agama lokal, (sekitar)  14 abad  pengaruh  Hinduisme  dan  Budhisme,  (sekitar)  7  abad  pengaruh  Islam,  dan (sekitar)  4  abad pengaruh  Kristen  (Latif, 2011:  57).  Dalam  buku  Sutasoma karangan Empu Tantular dijumpai kalimat yang kemudian dikenal Bhinneka Tunggal Ika. Sebenarnya kalimat tersebut secara lengkap  berbunyi Bhinneka Tunggal Ika Tan Hanna Dharma  Mangrua,  artinya  walaupun  berbeda,  satu  jua adanya, sebab  tidak  ada  agama  yang  mempunyai  tujuan yang berbeda (Hartono, 1992: 5).

Kuatnya faham keagamaan dalam formasi kebangsaan Indonesia membuat arus besar pendiri bangsa tidak dapat membayangkan  ruang  publik  hampa  Tuhan.  Sejak dekade 1920-an,  ketika  Indonesia  mulai  dibayangkan  sebagai komunitas  politik bersama,  mengatasi  komunitas  kultural dari ragam etnis dan agama, ide kebangsaan tidak terlepas dari  Ketuhanan  (Latif,  2011:  67).  Secara  lengkap pentingnya  dasar Ketuhanan  ketika  dirumuskan  oleh founding  fathers negara  kita  dapat  dibaca pada  pidato  Ir. Soekarno  pada  1  Juni  1945,  ketika  berbicara  mengenai dasar negara (philosophische grondslag) yang menyatakan, “Prinsip Ketuhanan! Bukan saja bangsa Indonesia ber-Tuhan,  tetapi  masing-masing  orang Indonesia  hendaknya  ber-Tuhan.  Tuhannya sendiri.  Yang  Kristen  menyembah  Tuhan menurut  petunjuk  Isa Al  Masih,  yang  Islam menurut  petunjuk  Nabi  Muhammad  s.a.w,  orang Budha menjalankan  ibadatnya  menurut  kitabkitab  yang  ada  padanya.  Tetapi  marilah  kita semuanya  ber-Tuhan.  Hendaknya  negara Indonesia  ialah  negara  yang  tiap-tiap orangnya dapat  menyembah  Tuhannya  dengan  leluasa. Segenap  rakyat  hendaknya ber-Tuhan.

Secara kebudayaan yakni dengan tiada “egoisme agama”. Dan  hendaknya Negara  Indonesia  satu  negara yang ber-Tuhan” (Zoelva, 2012).Pernyataan ini mengandung dua arti pokok. Pertama pengakuan  akan  eksistensi  agama-agama  di Indonesia yang,  menurut  Ir.  Soekarno,  “mendapat  tempat  yang sebaik-baiknya”. Kedua,  posisi  negara  terhadap  agama,  Ir. Soekarno  menegaskan  bahwa  “negara kita  akan  berTuhan”. Bahkan dalam bagian akhir pidatonya, Ir. Soekarno mengatakan,  “Hatiku  akan  berpesta  raya,  jikalau  saudarasaudara  menyetujui bahwa  Indonesia  berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Hal ini relevan dengan ayat (1) dan (2) Pasal 29 UUD 1945 (Ali, 2009: 118).Jelaslah  bahwa  ada  hubungan  antara  sila  Ketuhanan Yang  Maha  Esa  dalam Pancasila  dengan  ajaran  tauhid dalam  teologi  Islam.  Jelaslah  pula  bahwa  sila pertama Pancasila yang merupakan prima causa atau sebab pertama itu (meskipun istilah prima causa tidak selalu tepat, sebab Tuhan  terus-menerus  mengurus makhluknya),  sejalan dengan beberapa ajaran tauhid Islam, dalam hal ini ajaran tentang tauhidus-shifat dan tauhidul-af’al, dalam pengertian bahwa  Tuhan  itu  Esa dalam  sifat-Nya  dan  perbuatan-Nya. Ajaran  ini  juga  diterima  oleh  agama-agama lain  di Indonesia (Thalib dan Awwas, 1999: 63). Prinsip  ke-Tuhanan  Ir.  Soekarno itu  didapat  dari -atau  sekurang-kurangnya  diilhami  oleh  uraian-uraian  dari para pemimpin  Islam  yang  berbicara  mendahului  Ir. Soekarno  dalam  Badan Penyelidik  itu,  dikuatkan  dengan keterangan  Mohamad  Roem.  Pemimpin Masyumi  yang terkenal  ini  menerangkan  bahwa  dalam  Badan  Penyelidik itu  Ir. Soekarno  merupakan  pembicara  terakhir;  dan membaca pidatonya orang mendapat kesan bahwa pikiranpikiran  para  anggota  yang  berbicara  sebelumnya  telah tercakup  di  dalam  pidatonya  itu,  dan  dengan  sendirinya perhatian  tertuju  kepada (pidato)  yang  terpenting. Komentar  Roem,  “Pidato  penutup  yang  bersifat menghimpun  pidato-pidato  yang  telah  diucapkansebelumnya” (Thalib dan Awwas, 1999: 63).Prinsip  Ketuhanan  Yang  Maha  Esa  mengandung makna  bahwa  manusia Indonesia  harus  mengabdi  kepada satu  Tuhan, yaitu Tuhan Yang Maha Esa dan mengalahkan ilah-ilah  atau  Tuhan-Tuhan  lain  yang  bisa mempersekutukannya. Dalam  bahasa  formal  yang  telah disepakati  bersama  sebagai  perjanjian  bangsa sama maknanya dengan kalimat “Tiada Tuhan selain Tuhan Yang Maha  Esa”.  Di mana  pengertian  arti  kata  Tuhan  adalah sesuatu  yang  kita  taati  perintahnya  dan kehendaknya.Prinsip  dasar  pengabdian  adalah  tidak  boleh  punya  dua tuan, hanya satu tuannya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Jadi itulah  yang  menjadi  misi  utama tugas  para  pengemban risalah  untuk  mengajak  manusia  mengabdi  kepada  satu Tuan,  yaitu  Tuhan  Yang  Maha  Esa  .

Pada  saat  kemerdekaan,  sekularisme  dan  pemisahan agama  dari  negara didefinisikan  melalui  Pancasila.  Ini penting untuk dicatat karena  Pancasila tidak memasukkan kata  sekularisme  yang  secara  jelas  menyerukan  untuk memisahkan agama  dan  politik  atau  menegaskan  bahwa negara  harus  tidak  memiliki  agama. Akan  tetapi,  hal-hal tersebut terlihat dari fakta bahwa Pancasila tidak mengakui satu agama  pun  sebagai  agama  yang  diistimewakan kedudukannya  oleh  negara  dan dari  komitmennya terhadap  masyarakat  yang  plural  dan  egaliter.  Namun, dengan hanya  mengakui  lima  agama  (sekarang  menjadi  6 agama:  Islam,  Kristen Katolik,  Kristen  Protestan,  Hindu, Budha  dan  Konghucu)  secara  resmi,  negara Indonesia membatasi  pilihan  identitas  keagamaan  yang  bisa  dimiliki oleh  warga negara.  Pandangan  yang  dominan  terhadap  Pancasila  sebagai  dasar  negara Indonesia  secara  jelas menyebutkan  tempat  bagi  orang  yang  menganut  agama tersebut, tetapi tidak bagi mereka yang tidak menganutnya. Pemahaman  ini  juga memasukkan  kalangan  sekuler  yang menganut  agama  tersebut,  tapi  tidak memasukkan kalangan  sekuler  yang  tidak  menganutnya.  Seperti  yang telah ditelaah  Madjid,  meskipun  Pancasila  berfungsi sebagai  kerangka  yang  mengatur masyarakat  di  tingkat nasional  maupun  lokal,  sebagai  individu  orang  Indonesia bisa dan bahkan didorong untuk memiliki pandangan hidup personal yang berdasarkan agama (An-Na’im, 2007: 439).

Dalam  hubungan  antara  agama  Islam  dan  Pancasila, keduanya  dapat  berjalan saling  menunjang  dan  saling mengokohkan.  Keduanya  tidak  bertentangan  dan tidak boleh  dipertentangkan.  Juga  tidak  harus  dipilih  salah  satu dengan sekaligus membuang dan menanggalkan yang lain. Selanjutnya  Kiai  Achamd Siddiq menyatakan  bahwa  salah satu  hambatan  utama  bagi  proporsionalisasi  ini berwujud hambatan  psikologis,  yaitu  kecurigaan  dan  kekhawatiran yang  datang dari  dua  arah  (Zada  dan  Sjadzili  (ed),  2010: 79). hubungan  negara  dengan agama  menurut  NKRI  yang  berdasarkan  Pancasila  adalah sebagai berikut (Kaelan, 2012: 215-216):

  1. Negara adalah berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.
  2. Bangsa  Indonesia  adalah  sebagai  bangsa  yang berKetuhanan  yang  Maha Esa.  Konsekuensinya  setiap warga  memiliki  hak  asasi  untuk  memeluk  dan menjalankan  ibadah  sesuai  dengan  agama  masingmasing.
  3. Tidak ada tempat bagi atheisme dan sekularisme karena hakikatnya  manusia berkedudukan  kodrat  sebagai makhluk Tuhan.
  4. Tidak  ada  tempat  bagi  pertentangan  agama,  golongan agama,  antar  dan  inter pemeluk  agama  serta  antar pemeluk agama.
  5. Tidak  ada  tempat  bagi  pemaksaan  agama  karena ketakwaan itu bukan hasil peksaan bagi siapapun juga.
  6. Memberikan  toleransi  terhadap  orang  lain  dalam menjalankan agama dalam negara.
  7. Segala  aspek  dalam  melaksanakan  dan menyelenggatakan  negara  harus sesuai  dengan  nilainilai Ketuhanan yang Maha Esa terutama norma-norma Hukum positif maupun norma moral baik moral agama maupun moral para penyelenggara negara.
  8. Negara  pda  hakikatnya  adalah  merupakan  “…berkat rahmat Allah yang Maha Esa”.

Berdasarkan kesimpulan Kongres Pancasila (Wahyudi (ed.), 2009: 58), dijelaskan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa  yang  religius.  Religiusitas  bangsa Indonesia  ini, secara  filosofis  merupakan  nilai  fundamental  yang meneguhkan eksistensi  negara  Indonesia  sebagai  negara yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. Ketuhanan Yang Maha Esa  merupakan  dasar  kerohanian  bangsa  dan  menjadi penopang  utama  bagi  persatuan  dan  kesatuan  bangsa dalam  rangka  menjamin keutuhan  NKRI.  Karena  itu,  agar terjalin hubungan selaras dan harmonis antara agama dan negara, maka negara sesuai dengan Dasar Negara Pancasila wajib memberikan  perlindungan  kepada agama-agama  di Indonesia.

 

 

Sumber : http://suraya-atika.blogspot.co.id/2014/11/pancasila-dan-agama.html

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *